counter

Cari artikel GAZEBO

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Karna aku adalah malaikatmu

0 komentar



Tak pernah ku bayangkan sebelumnya hidupku akan berubah sejauh ini. Semuanya berawal dari sebuah pertemuan singkat yang membuatku tak akan pernah mengerti bagaimana itu terjadi. Sebuah perasaan aneh terus menghantuiku. Rambut pirangnya yang ikal terurai, sorot bola mata yang seakan penuh harap, senyum dari bibir mungilnya yang seakan menjerat siapa pun yang melihatnya. Aku tak dapat menggambarkan lebih dalam lagi, ia sangat misterius.
Hari itu adalah hari peringatan kematian keluargaku namun tak sedikit pun kesedihan muncul dalam raut wajahku. Dengan membawa seikat bunga, aku berjalan dengan malasnya ke pemakaman. Aku berdiri termenung menatap jajaran batu nisan keluargaku. Aku berjalan dan meletakkan seikat bunga di atas batu nisannya. Aku masih tak dapat memaafkan mereka. Bagaimana bisa mereka meninggalkan aku untuk berlibur ke Los Angeles, tetapi sekarang mereka tak akan pernah kembali. Tanpa pikir panjang aku berjalan meningggalkan nisan keluarga itu.
Ketika aku berjalan pergi, aku berpapasan dengan seorang wanita. Ia berjalan sambil memeluk seikat bunga mawar merah yang mulai menghitam. Tatapan matanya memandang kosong ke segala arah. Aku tak tahu siapa dia, tapi dia telah membuatku terus terpaku memandangnya. Ia terus berjalan melewati nisan-nisan lainya. Gadis itu lalu duduk mematung di depan sebuah batu nisan. Ia mengusapnya dan memandang dengan tatapan kosong seakan memikirkan sesuatu. Aku terus mengamatinya dari kejauhan. Kemudian aku lihat dia mengeluarkan benda kecil dan mengarahkannya pada tangannya. Ia terus menangis di situ dan mendekatkan benda kecil itu ke tangannya. Sepertinya ia ingin mengakhiri hidupnya. Tanpa pikir panjang aku berlari dan mencegahnya.
Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, ia menatap mataku. Dengan tatapan nanar dari matanya yang seolah memendam kesedihan seumur hidupnya. Aku menarik tangannya dan membantunya berdiri, tapi ia tidak menerima bantuanku. Ia berdiri dan berjalan meninggalkanku sambil memeluk lagi seikat bunga mawar itu. Ada apa dengan gadis itu?
Suatu sore aku berjalan menuju taman, saat itu sedang musim gugur jadi ku putuskan menghabiskan waktu ku di situ. Ketika sedang asiknya membaca buku sambil mendengarkan musik di bawah pohon, aku melihat gadis yang beberapa hari lalu aku lihat di pemakaman. Aku bangkit dan berlari mengejar gadis itu. Gadis itu menghilang, kemana dia. Aku terus mencarinya. “Itu dia” kataku.
Ia duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan mata terpejam. Angin sore berhembus menerpa wajahnya, cantik sekali. Secepat kilat aku menegeluarkan ponselku dan memotretnya. Aku berjalan dan mendekatinya.
“Hai aku Davis, kamu siapa?”
Ia lalu terbangun dari lamunananya dan menatapku dengan muka yang memerah padam. Sepertinya aku telah mengganggu waktu bersantainya. Ia hanya terdiam dan berlalu dariku. Ia seakan-akan tidak ingin berada di dekatku. Baiklah mungkin ia sedang bad mood.
Karena sepanjang bulan ini masih musim gugur, tiada salahnya jika aku menghabiskan setiap sore untuk keluar rumah. Aku keluar dan menuju ke dalam mobil. Cuaca sore ini sangat indah, aku pergi menuju ke kedai teh yang tak jauh dari pusat keramaian taman kota. Aroma tehnya benar-benar membuat pikiranku tenang. Ketika meminum teh sambil menikmati suasana sore kota Paris, aku melihat gadis itu lagi. Aku berlari keluar dari tempat itu.
“Hei anak muda, kau belum membayarnya!” teriak si pemilik kedai teh.
“Uangnya aku tinggalkan di atas meja!”
Aku berlari mengejar gadis misterius itu. Aneh sekali, aku selalu tak pernah dapat menemukannya. Aku bergegas masuk ke mobilku. Aku harus mengejarnya, ia pasti belum pergi jauh. Aku terus mengemudikan mobilku menyusuri kota. Sepertinya sengatan matahari sore musim semi telah membuat bajuku basah oleh keringat. Ketika hendak pulang aku melihat gadis itu tengah berjalan di kerumunan orang. Lagi-lagi aku berlari mengejarnya dan melewati kerumunan orang banyak yang tengah menghabiskan waktu sorenya di kota.
“Permisi..”
“Oh maaf telah menabrakmu”
“Permisi, biarkan aku lewat”
Karena berlari di tengah kerumunan orang, lari ku terhambat. Sial, aku kehilangan dia lagi. Sebuah benda berwarna pink tergeletak di jalan. Aku memungutnya dan membukanya perlahan. Bertapa terkejutnya diriku melihat bahawa pemiliknya adalah gadis itu. Tadinya aku berniat menyerahkannya ke kantor polisi, tetapi mungkin benda itu dapat membantuku jadi tidak akan aku serahkan. Sesampainya di apartement aku lalu mandi untuk menyegarkan badanku setelah kejadian sore tadi.
Setelah menyantap makan malam, aku duduk di depan TV yang menyala sambil membuka isi dompet itu.
“Mectha?”
“Mectha Rosiene, pernah kuliah di Sorbonne University”
Mungkin aku bisa mengenalnya lewat situs network. Kuambil laptop dari kamarku dan duduk lagi di depan TV. Mectha Rosiene. Nihil, tak ada satu pun accountnya di situs pertemanan. Semalaman itu aku masih terus mencari dan berharap mungkin aku bisa menemukannya. Aku tidak menyadari bahwa aku tertidur di depan TV hingga pagi. Ketika melihat ke arah jam dinding, bertapa kagetnya aku saat itu. Kacau kelas dimulai lima menit lagi. Dengan segera aku mengambil tasku dan menuju ke mobil. Untunglah aku tidak terlambat. Seusai pelajaran aku menghampiri Nick, dia adalah sahabat baikku.
“Hei bro, how are you?”
“Fine” kataku.
“Nick, aku ingin menyanyakan sesuatu padamu”
“Tentang Kanya?”
“Ini bukan soal Kanya. Ini soal Mechtha Rosiene, apa kau kenal dia. Kudengar dulu dia sempat kuliah di sini”
“Mectha Rosiene?. Dulu memang pernah kuliah di sini, tapi setelah kematian kekasihnya dia keluar dari tempat ini”
“Oh jadi begitu”
Hanya sebatas itu yang aku tahu, harus mencari tahu lebih dalam lagi. Kuputuskan sore itu akan ke pemakaman, aku harus tahu siapa nama yang dulunya menjadi kekasih Mectha. Mudah saja aku menemukannya, akan tetapi ada yang aneh. Sepertinya gadis itu baru saja meninggalkan makam ini, ia meletakkan bunga mawar yang kehitaman di atas batu nisan Joana Ricky. Aku mengelilingi tempat itu, mungkin ia masih ada di tempat ini. Lagi-lagi, cepat sekali dia pergi meninggakanku. Ia seakan tidak ingin jika aku terus mendekatinya, memangnya apa yang salah denganku. Aku baru ingat, dompetnya mungkin bisa memancingnya kembali.
“Mectha, benda berwarna pink ini milikmu bukan” aku berteriak.
“Bisakah kau serahkan itu dan pergi dariku sekarang” katanya tiba-tiba.
“Tidak, sebelum kau tunjukan padaku siapa dirimu sebenarnya!”
Hebat, caraku berjalan dengan baik. Dia benar-benar menampakkan dirinya secara langsung di depanku. Sekarang aku bisa melihatnya dari dekat. Dia sama seperti yang aku lihat sore itu ketika sedang duduk di taman. Cantik sekali dengan rambut ikal yang terurai, kulit yang putih mulus bak porselen.
“Serahkan itu!”
Aku mengulurkan dompet itu di tanganku. Ketika ia akan mengambilnya dariku, secepat kilat aku menarik tanganya. Aku akan membawanya ke taman ketika aku melihatnya sore itu duduk di bangku taman.
“Katakan siapa dirimu sebenarnya”
“Pergi dan menjauh dariku atau kau akan mati bersamaku”
“Apa maksudmu aku akan mati”
“Aku bermimpi semua yang akan terjadi dalam hidupku, semua orang yang ada di dekatku”
“Maksudmu de javu?”
“Jadi sebaiknya kau tinggalkan aku jika tidak ingin mati bersamaku. Aku tak mau lagi ada orang yang ditakdirkan akan mati bersamaku. Aku tak mau kau seperti Joana, ia mati karena salahku. Seharusnya aku katakan kepadanya dari awal bahwa ia akan mati jika bersamaku.”
Ia menangis, raut mukanya dibasahi oleh air mata. Sepertinya ia memang benar-benar menanggung beban dan rasa bersalah yang sangat besar. Aku menghargai maksudnya. Aku tidak akan lagi mengganggunya.
Ketika di malam musim dingin, aku pergi ke luar untuk makan ke luar bersama teman-temanku. Kami pergi ke pusat kota. Perlahan mulai melupakan kejadian ketika aku bertemu dengan gadis itu dengan bersenang-senang. Tetapi mungkin aku telah ditakdirkan untuk menjadi penyelamatnya ketika maut akan datang padanya. Di tengah acara makan malam, aku pergi untuk keluar sebentar. Ketika aku melihat gadis itu berjalan sendirian pada saat lampu merah, aku membuang pandanganku darinya. Lampu berubah menjadi hijau ketika ia masih berjalan di tengah jalan raya. Aku berlari ke arahnya dan menarik tanganya. Ia jatuh tepat ke pelukanku, nyaris saja akan mati.
“Kenapa kau muncul lagi, bukankah sudah kukatakan kau pasti akan mati jika bersamaku. Kau nyaris mati tertabrak tadi” katanya sambil menangis.
“Aku tak tahu apa yang membuatku terus berbuat seperti ini. Aku hanya mengikuti kata hatiku membawaku. Mungkin aku ditakdirkan untuk menjadi malikat penyelamatmu”
“Ikut aku” kataku sambil berlari menarik tanganya.
“Kita akan kemana?”
“Sudah ikut saja”
Aku membawanya ke tempat pusat perbelanjaan berbagai mode pakaian di Paris. Aku berjalan melewati sederet pakaian-pakaian mewah berlabel ternama dan menuju ke tempat pajangan koleksi topi mewah. Aku mengambil salah satu topi berwarna pink berbahan wool. Setelah membayarnya, aku lalu memakaikanya ke kepalanya.
“Pakai itu. Kau tampak cantik jika memakainya. Beberapa hari yang lalu ketika kita bertemu, aku melihat topi ini di etalase toko. Kupikir ini cocok jika untukmu ternyata benar”
“Mengapa, kau lakukan semua ini untukku?”
“Anggap saja ini hadiah dari malaikat penjagamu”
Saat ini tugasku adalah untuk menjaganya. Aku harus menjaga Mectha. Karena aku telah ditakdirkan untuk bersamanya dan melidunginya.
Cerpen Karangan: Birgita Feva Nurregina
Facebook: Birgita Feva
Baca Selengkapnya →

Ibu

2 komentar




Bau khas tanah yang terkena hujan langsung menyapa ku saat aku keluar dari mobil, hujan rintik-rintik kecil cukup membasahi bajuku yang saat itu berwarna hitam hingga membuat lingkaran kecil bekas tetes-tetes hujan itu tak terlalu tampak. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami. Hanya sedikit yang berubah saat aku melihat bangunan di depanku ini. Coretan-coretan yang ku tulis waktu aku masih kecil masih terdapat di salah satu sisi tembok bangunan rumah bercat hijau ini. Bahkan, kursi kayu yang kubuat bersama ayah dulu masih tertata rapi di beranda rumah bersama sebuah meja bundar kecil, tempat kami dulu biasa berkumpul. Hanya saja, banyak sekali daun-daun yang mati berguguran berserakan di lantai beranda ini dan debu-debu serta sarang laba-laba memenuhi sudut langit-langit atas.
“Brakkk” terdengar suara sesuatu jatuh dari dalam rumah, aku langsung membuka pintu dan ternyata hanya seekor kucing dan tikus-tikus kecil yang berkeliaran di dalam rumah. Sungguh berubah keadaan rumah saat ini dan 6 tahun yang lalu saat aku tinggalkan, kini rumah ini bak sebuah kapal pecah yang baru saja menghantam sebuah karang besar, disana-sini barang-barang berserakan, patah-mematah, bahkan hancur dimakan rayap. Sayup-sayup terdengar suara istriku yang tengah mengobrol dengan seseorang di luar, buru-buru aku melirik dari balik jendela dan ternyata itu adalah mbah Hirjo tetanggaku dulu yang sampai sekarang masih tinggal di sebuah gubuk kecil di dekat rumah ini. Aku menelanjangi seluruh bilik di rumah ini, kalau-kalau masih ada benda yang yang utuh yang masih bisa disimpan. Lalu mataku tertuju pada sebuah kotak kecil di atas lemari tua berwarna coklat dengan ukiran-ukiran bunga di setiap sisinya. Aneh mengapa sebelumya aku tak pernah menemukan kotak ini. Langsung saja tanpa berpikir panjang aku membuka kotak kecil itu, kutemukan sebuah foto yang mengingatkan ku dengan semua masa laluku.
Peristiwa itu terjadi pada tahun 1990an, saat itu aku berumur sembilan belas tahun, umur yang menurutku sudah cukup untuk menjadikanku tulang punggung bagi keluargaku dan bertanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku karena ayahku telah meninggal dan aku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Sore itu aku berencana untuk mencari ubi di kebun yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahku. Aku mempersiapkan semua barang-barang yang akan kubawa, ketika itu adik perempuanku memaksaku untuk mengajaknya
“kak aku ikut yah!” katanya sambil terengah-engah berlari
“tidak usah, kau tinggal saja disini. Disana akan berbahaya nanti kau bisa tertusuk ranting-ranting tajam”
“ayolah kak, satu kali saja” katanya memelas
“jangan, nanti jika kau ikut siapa yang akan menjaga ibu? kasihan ibu, kau tahu sendiri kan ibu sedang sakit?”

Akhirnya dia pun mengalah dan tetap tinggal di rumah sementara aku pergi untuk mencari ubi untuk makan malam kami nanti. Aku memilih jalan di sebelah barat rumah kami karena jika lewat jalan itu aku bisa sampai lebih cepat namun resikonya lebih besar karena aku harus melewati jurang-jurang dengan lantai yang licin, terlebih pada saat itu hujan baru saja meyerbu desa kecil kami. Ditengah perjalanan aku mendengar seseorang menjerit dari bawah, ketika kulihat ternyata ada seorang laki-laki tua yang bergelantungan di tepi jurang, jari-jarinya hanya memegang sebuah akar pohon, tanpa berpikir panjang aku langsung memberikan tanganku, namun posisi kami terlampau jauh, alhasil tanganku tak sampai untuk menggapai tangan laki-laki itu. Tak menyerah aku melepaskan bajuku dan meberikannya kepada laki-laki itu, maksud hati agar tangan laki-laki itu bisa meraihnya. Dan ternyata usahaku tak sia-sia aku berhasil, aku langsung menarik laki-laki itu ke atas. Laki-laki itu sangat berterima kasih kepadaku karena aku telah menyelamatkannya dari maut, cuaca sedang sangat tidak bersahabat dan hujan pun kembali mengguyur desa kami, akhirnya kami berlari untuk menemukan tempat berteduh.
Kami berdiam sebentar di sebuah rumah tak berpenghuni, rumah ini sangat pengap dan hanya tedapat satu ruangan di dalamnya, di sudut ruangan tedapat barang-barang tua yang telah terbungkus debu juga sisa-sisa piring bekas makan dengan bau sisa makanan yang menyebar di seluruh ruangan dan membuat ruangan ini semakin pengap. Sembari menunggu hujan reda, kami mengobrol sedikit mengenai asal-usul kami. Ternyata laki-laki yang ku tolong tadi bernama Gunawan, dia adalah seorang pengusaha sukses dari Jakarta, dia sedang mencari rumah keluargannya disini namun sepertinya alamat yang dipegangnya itu salah dan membuat dia tersesat hingga ke desa ku.
Hujan telah reda dan kami memutuskan untuk pulang, aku menunjukkan jalan keluar dari desa kami kepada bapak Gunawan agar dia bisa pulang dengan selamat dan setelah itu dia memberikanku beberapa helai uang namun aku menolaknya, aku selalu ingat dengan pesan ibu untuk selalu berbuat ikhlas. Walaupun terus memaksa namun akhirnya laki-laki itu mengalah dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetya
“ada lowongan kerja di perusahaanku, jika kau membutuhkannya jangan sungkan-sungkan untuk datang”
Dengan senang hati aku menerima tawaran itu, entah apa yang berada di pikiranku namun meski pulang nanti aku tak membawa makanan sedikit pun tapi aku membawa kabar bahagia yang bisa membuat ibu di rumah senang. Tak bisa menunggu lama, aku berlari menuju rumahku, beberapa kali aku terjatuh hingga luka karena jalan yang licin. Namun itu tak menghentikan langkahku. Aku ingin secepatnya memberi tahu ibu tentang kabar gembira ini.

Rasa senang yang menggelegar di hati ini rasanya tak bisa ku pendam tatkala aku menginjakkan kaki di rumahku ini. Dan langsung saja ku hamburkan semua rasa gembira ini kepada ibu dan adikku di rumah. Mereka langsung memelukku dan mendukungku untuk pergi ke Jakarta untuk bekerja mencari uang.
Hari itu tiba, hari dimana aku pergi ke Jakarta memulai pekerjaan baruku dan meninggalkan ibu dan adikku di rumah. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan mereka berdua, namun apa daya, kelak jika nanti aku telah sukses aku akan membawa ibu dan adikku tinggal di Jakarta. Tinggal di istana megah yang selama ini telah kami impi-impikan.
Jarak kantor dan rumahku hanya sekitar 2 km saja, terkadang aku tak perlu melambaikan tanganku untuk memanggil taksi, cukup dengan berjalan kaki saja tak memakan waktu sampai 1 jam. Kadang-kadang aku pergi ke kantor bersama Gaby rekan kerjaku sekaligus sekretaris pribadinya Pak Gunawan yang tempat tinggalnya hanya berjarak dua blok dengan rumahku. Namun hari demi hari kami semakin dekat dan perasaan cinta itu mulai tumbuh di antara kami berdua. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk mengikat tali hubungan kami ke pelaminan yang sebelumnya telah direstui oleh kedua orang tua kami. Aku mencoba menelpon ibuku dan adikku untuk menyuruh mereka hadir di acara pernikahan kami, ibu setuju untuk datang, namun ibu menolak tawaranku untuk mengongkosinya kesini naik pesawat katannya biarlah mereka naik bus saja, takut nanti ibu mabuk di pesawat dan merepotkan saja.
Saat hari pernikahanku pada waktu itu, ibu duduk di kursi orang tua mempelai pria, bersama pamanku yang hadir sebagai perwakilan dari ayah, ibu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya hijau dan sanggul yang melingkar di rambutnya, namun perlahan aku sadar itu bukanlah ibu, itu adalah bibiku – istri dari pamanku -. Nyatanya sampai sekarang aku masih belum rela mendengar kabar bahwa ibu telah meninggal dunia dua bulan yang lalu sebelum pernikahanku karena sakit keras yang dideritanya, namun yang aku yakin, disana ibu telah bahagia terlebih melihat anaknya telah sukses dan menemukan cinta sejatinya.
Sayup-sayup kudengar istriku sedang mengobrol di luar bersama seorang perempuan, samar-samar kulihat wanita itu dari jauh, wajahnya bayang-bayang karena air mata yang masih menggumpal di mata ini, ternyata itu adalah bik Masni istrinya mbah Hirjo. Dari jauh kulihat dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyumannya.
Cerpen Karangan: Feranda Ayu Syafitri
Situs penulis: http://ferandaasgoblog.wordpress.com
Baca Selengkapnya →

Senja Di Padang Ilalang

0 komentar




Senja hari ini begitu indah, semilir angin begitu merdu diikuti tarian lembut sang ilalang. Suasana ini mengingatkanku pada kejadian dua tahun yang lalu sebelum aku di rawat di rumah sakit karena koma. Entah mengapa hidupku langsung berubah drastis 360° bagaikan terhipnotis oleh dedi corbuzier. Hanya sepatah kata yang diucapkan oleh gadis berkerudung itu, hatiku langsung luluh lantah dibuatnya bagaikan tsunami yang menyerang Aceh pada saat itu. Suara lembut, dan kerudung berwarna hijau yang dipermainkan oleh angin membuat keanggunan seorang gadis soleha. Aku masih ingat saat itu aku masih berusia 16 tahun, belum masuk kategori dewasa bagi seorang laki-laki seperti saya. Saat itulah rasa ingin tahuku tentang segala hal muncul satu per satu menggerogoti kehidupanku. Apa yang seharusnya tidak dilakukan, terpaksa aku lakukan karena rasa keingintahuanku tentang hal-hal yang baru yang dapat merugikan diriku sendiri.
Saat itu di bawah pohon akasia dekat hamparan ilalang yang tak jauh dari kampung tempat dimana paman dan bibi tinggal, aku melampiaskan rasa sakit hatiku terhadap kedua orang tuaku yang tidak pernah peduli dengan keadaanku. Setiap aku frustasi dengan masalah yang aku hadapi dan tidak ada seorang pun yang mempedulikanku, hanya obat haram itulah yang selalu menemaniku dan menjadi sahabat sejatiku. Sulit untuk lepas dari pengaruh pil setan yang membuat tubuhku ini lemah tak berdaya ketika obat itu tidak aku kosumsi. Sempat aku dilarikan ke rumah sakit dan nyaris nyawaku melayang gara-gara pil setan itu, tapi mungkin tuhan masih ingin melihat aku hidup dan bisa bertobat di jalannya.
Waktu itu aku dalam keadaan SAKAU alias (Sakit Karena Putau) gara-gara tidak mengkomsumsi pil setan itu dikarenakan uang jajan yang diberikan oleh ayah tidak cukup untuk membelinya. Akhirnya aku yang dalam keadaan kacau terus berlari kebingungan dan merasa frustasi, tanpa sengaja aku tersesat di sebuah perkampungan yang tak jauh dari kota tempat aku tinggal. Saat itu aku terkulai lemas, badan terasa perih bagaikan teriris pisau tajam. Karena tidak kuat badanku kurebahkan di bawah pohon akasia dekat padang ilalang yang begitu indah. Ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya untuk minta tolong agar orang-orang datang membantuku, tapi apa daya sepatah kata pun sulit keluar dari mulut ini. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku sekarang, tiba-tiba ada seorang gadis berjilbab hijau menghampiriku. “adik, apa kamu baik-baik saja?” tanya gadis itu padaku dengan suara yang lembut. Entah mengapa badanku seakan bertenaga setelah mendengar suara gadis itu, dengan perasaan yang tenang dan teduh melihat sorot matanya akupun dapat menjawab pertanyaannya. “aku butuh bantuanmu, bawa aku ke rumah sakit aku tidak kuat!”. Gadis itu sempat mengucapkan sesuatu lalu pergi meninggalkanku, tapi saat itu keadaanku setengah sadar sehingga apa yang diucapkannya tidak begitu jelas kudengar.
Sejak saat itu aku tidak ingat lagi dengan apa yang kualami selama ini, orang yang menolongku dan orang yang merawatku. Tapi di saat mata ini terbuka setelah sekian lama terpejam karena di vonis dokter aku mengalami koma, yang kulihat di depan mataku hanyalah ruangan kosong dengan bau obat-obat yang begitu menyengat di hidungku. “ingin rasanya aku mati saja, kenapa mesti ada yang menolongku seharusnya aku dibiarkan saja mati di tempat itu dari pada aku hidup tapi tidak ada seorangpun yang peduli padaku”. Pikirku dalam hati dengan penuh rasa keprihatinan dengan keadaanku sekarang. “Ternyata adik sudah sadar ya?”, suara seorang perempuan yag tiba-tiba mengagetkanku. Ternyata perempuan itu seorang suster di rumah sakit tempat aku di rawat. “iya mbak” , jawabku dengan singkat dikarenakan kondisiku yang masih lemah. “Alhamdulillah yah dek, akhirnya kamu sadar juga setelah sekian lama terbaring koma”. Ucap suster itu yang dari tadi menatapku dengan penuh rasa kasihan.
“Sus… sus… ter, aku mau bertanya sama suster”. “Maaf dek…bukannya aku tidak mau ditanya tapi kondisi adek sekarang masih lemah dan masih butuh perawatan yang intensif jadi sebaiknya pertanyaannya di simpan saja, nanti ketika kondisi adek sudah membaik baru pertanyaannya aku ladeni”. jawab suster itu dengan tersenyum manis padaku. “Oh… makasih banyak sus…ter”, “sama-sama dek. Mendingan sekarang adek istirahat dulu supaya kondisinya membaik”. ucap suster itu sebelum dia beranjak pergi. Perlahan demi perlahan kondisiku semakin membaik, waktu yang kubutuhkan cukup lama sampai kondisiku betul-betul stabil. Aku senang akhirnya tiba saatnya pertanyaanku pada suster itu terjawab sudah. Hampir setengah jam suster itu menceritakan kejadian yang kualami sejak awal aku di rawat di rumah sakit ini sampai sekarang. Ternyata gadis berkerudung hijau itu adalah seorang bidadari penolong bagiku. Aku pikir dia tidak peduli padaku tapi ternyata dia pergi untuk mencari bantuan pada penduduk desa.
Satu tahun tujuh bulan aku mengalami koma, aku tahu semua ini dari cerita suster Rina yang selama ini merawat aku sampai aku tersadar dari koma. Setelah tersadar dari koma aku butuh waktu 5 bulan untuk proses pemulihan. Ternyata sudah dua tahun aku terbaring di tempat tidur ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Hari ini tepatnya tanggal… ini merupakan hari yang telah di jadwalkan oleh dokter untuk membebaskanku pulang ke rumah. Setelah berpamitan dengan dokter dan para suster yang ada di rumah sakit itu khususnya suster rina, aku melangkahkan kaki dengan harapan aku menginjakkan kakiku di rumah sakit untuk yang terakhir kalinya. Dengan tergesa-gesa aku ingin pulang ke rumah dan memeluk kedua orang tuaku. Walaupun sampai saat ini mereka tidak begitu memperhatikanku tapi setidaknya mereka adalah orang yang telah membesarkanku dan membiayaiku sampai sekarang. Aku ingin minta maaf pada mereka, karena aku telah banyak berbuat salah.
Suasana rumah yang aku rindukan ternyata tidak berubah sama sekali, tetap sepi dan hanya suara cempreng mbok sumi yang selalu menghiasinya. Aku sempat bingung karena lupa dengan kamarku sendiri padahal kamarku merupakan surga pribadiku. Di kamar itulah aku sering berbagi dengan sahabat sejatiku yaitu obat haram. Kubuka perlahan kamarku, kuintip celahnya sedikit demi sedikit tidak ada yang berubah masih seperti dua tahun yang lalu. Tak sabar rasanya ingin kurebahkan tubuh ini di kasur empuk yang sepreinya sudah di ganti dengan seprei gambar logo inter milan, club sepak bola favoritku. Mbok sumi sudah tau kalau hari ini aku sudah bisa pulang ke rumah, makanya mbok sumi langsung mengganti seprei kasurku dengan seprei kesukaanku. Kupandangi satu persatu isi kamarku tak ada yang istimewa, tapi ada sesuatu yang menarik perhatianku. Secarik surat yang berwarna pink, ternyata surat itu adalah undangan pernikahan. Undangan itu kubuka dengan rasa penasaran, kata demi kata kubaca dengan seksama. Tapi aku masih bingung dengan undangan itu, tiba-tiba selembar foto jatuh dari bungkusan undangan itu.
Mata ini langsung menatap sosok wanita anggun yang mengenakan busana muslim itu, pandangan ini masih lekat pada sosok wanita itu. “Astaga… ini kan cewek yang pernah menolongku?” ucapku dengan ekspresi kaget. Ku balik kembali undangan itu, ternyata Zahra Ramadani nama gadis itu, seorang gadis soleha yang lembut hati dan tutur katanya. Tanpa pikir panjang aku bergegas meninggalkan kamarku untuk mencari keberadaan gadis itu. Tak tahu kemana aku harus mencari keberadaan gadis itu, yang jelas aku harus ketemu dengannya dan mengucapkan terima kasih padanya. Karena dia adalah sosok bidadari penolong bagiku.

Sudah seharian aku keliling kesana kemari untuk mencari gadis itu, tapi sedikutpun aku tidak mendapat informasi tentang keberadaannya. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke rumah dan kembali mencarinya besok pagi. Hari ini begitu melelahkan, tapi aku tidak akan menyerah. “Aku harus menemukan gadis itu meskipun aku harus mengelilingi isi dunia ini sekalipun”, ucap Rio dengan rasa optimis. Malam itu Rio begitu gelisah hingga tidak bisa tidur memikirkan gadis itu. Gadis yang selama ini dicarinya, ternyata sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
Keesokan harinya saat mentari menyapaku dengan senyuman hangatnya, kulanjutkan pencarianku yang sempat terhenti oleh gelapnya malam. Kawasaki ninjaku yang siap menemaniku, kini melaju dengan kecepatan tinggi bagaikan seorang pembalap moto GP yang beradu kecepatan di arena balapan. Dari kota satu ke kota yang lain kutelusuri tapi sedikitpun tak kutemukan jejak gadis itu. Sampai saat ini pun tak ada hasil yang kudapatkan, hanya rasa letih yang bersarang di badanku yang masih lemah ini. Senja sudah berada diperaduannya, kubalikkan arah menuju tempat yang selalu memberiku rasa ketenangan. “Rio… kamu mau kemana, kamu tidak mau singgah di rumah paman?” teriak paman ketika melihatku lewat di depan rumahnya. “aku mau ke bukit padang ilalang yang dekat sungai itu paman, nanti sebentar aku singgah”. Ucap Rio sambil mengurangi kecepatan motor yang dikendarainya. Dari kejauhan rio melihat sosok gadis berjilbab yang sedang menari-nari menikmati senja yang begitu indah saat itu. Semakin dekat posisi rio dengan tempat itu semakin lebar pula senyuman di bibirnya. Dia yakin benar kalau gadis yang dia lihat sekarang adalah Zahra yang selama ini dicarinya.
“Hay… kamu masih ingat denganku?” ucap Rio dengan tersenyum lebar pada gadis itu. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu… insya Allah aku masih ingat” jawab gadis itu dengan suara yang lembut. Aku masih memandangi senyuman dari gadis itu, begitu menenangkan hati. Sampai-sampai mata ini tak berkedip melihat senyuman yang begitu indah untuk kedua kalinya aku melihat senyuman itu. “Afwan kanda, tidak sepantasnya kanda menatap ukhti seperti ini, karena bisa membuat zina mata bagi kita berdua”. Sekejap aku tersadar dari pandanganku, karena kata-kata yang keluar dari mulut mungil gadis itu. Entah apa yang ia katakan yang jelas aku tidak mengerti dengan perkataannya. Spontan aku tertawa terbahak-bahak sambil berkata “maaf… aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan tadi” ucap Rio yang salah tingkah di depan gadis itu. Kujulurkan tanganku dan hendak berkenalan dengannya, tapi dia cuma tersenyum manis sambil menempelkan kedua tangannya dan di taruh di depan dadanya. “Afwan… kita bukan muhrim” ucap gadis itu singkat.
Senja saat itu begitu indah, dihiasi senyuman manis dan kerudung putih yang menari-nari tertiup angin. Hampir satu jam aku bercengkerama dengan gadis itu, banyak hal yang dapat kupelajari dari semua perkataannya. Tak sedikitpun kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Hanya kata Subuhanallah yang pantas dia dapatkan untuk sanjungan bagi gadis seperti dia. Kata itu aku contek dari gadis itu, seorang bidadari dunia yang tidak gelap mata dengan kehidupan dunia. “Afwan… kanda, senja hampir meninggalkan kita. Saatnya ukhti pamit untuk pulang karena sebentar lagi akan memasuki waktu shalat magrib”. Ucap Zahra sambil berdiri dan beranjak pergi. Aku pun berdiri sambil bergegas mengikuti langkahnya, “Zahra… aku lupa, aku ingin ketemu denganmu untuk mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu saat itu”. “Sama-sama” ucap Zahra dengan singkat dihiasi senyuman manis dibibirnya. Sejak saat itu Rio tidak pernah lagi ketemu dengan Zahra, mungkin itu pertemuan terakhir antara mereka berdua. Karena setelah Zahra menikah dengan seorang ustadz pilihan orang tuanya ia harus meninggalkan kampung halamannya dan imigrasi ke negeri Jiran Malaysia mengikuti suaminya yang mendapat tugas kerja disana.
Zahra adalah bidadari penolongku yang sengaja dikirim tuhan untuk meluruskan jalan hidupku. Berkat nasehat zahra yang bagiku begitu singkat ternyata membawa segudang ilmu. Walapun pertemuanku dengannya sangat singkat tapi aku bersyukur hidupku bisa berubah berkatnya. Sehebat-hebatnya Ustadz Jefri berceramah, tak sehebat nasehat Zahra padaku saat itu. Kini aku sadar dunia ini hanya tempat persinggahan sementara, dan akhiratlah yang kekal nantinya. Mulai sekarang apa yang dikatakan Zahra saat itu, aku akan terapkan dalam hidupku dan akan kubagi pengalamanku dengan orang-orang terdekatku. Aku masih ingat kata-kata Zahra “semakin banyak kita berbagi ilmu dengan orang lain, maka semakin banyak pula amal ibadah yang Allah akan berikan pada kita”. Ucap rio pada mbok sumi saat ia menceritakan pengalaman religinya bersama Zahra gadis idamannya itu.
Cerpen Karangan: Damayanti Childiesh
Facebook: Damayanti Childiesh



Baca Selengkapnya →

Hujan pun Mengerti

0 komentar




Di bawah hujan aku terdiam, tak kurasakan butiran air yang menerpaku. Tak kurasakan dingin yang menyelimutiku, dan tak kudengar gemercik air yang jatuh.
Datangnya hujan tak mengusik lamunanku. Sudah 2 jam aku terduduk di halaman belakang rumah, di bawah pohon rambutan. Aku kira, baru seminggu yang lalu aku bersama seseorang yang selalu ada untukku dan yang selalu menemaniku saat tak ada yang bersedia. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Dia sudah tak ada lagi di sisiku. Dan aku tak bisa melihatnya. Masih terngiang kata-katanya yang terakhir keluar dari mulutnya sepulang sekolah tempo lalu.
“Lupakan aku..” katanya.
“Kenapa Tih? Apa salahku?”
“Kamu nggak salah, justru aku yang salah. Salahku udah mencampuri kehidupanmu.”
“Tapi, kenapa hal itu jadi salah?” aku mencoba meminta penjelasan yang lebih bisa ku mengerti.
“Kita ini sahabat, dan kita hampir melampaui hubungan itu. Aku nggak mau jadi yang lebih buatmu. Aku udah cukup senang jadi sahabatmu. Dan aku juga nggak mau nyakitin perasaanmu. Selama ini aku ngerasa udah bikin kamu marah ke aku, itu pun karena sikapku. Aku nggak mau nyakitin perasaanmu lagi, kamu ngerti kan? Itulah yang menyebabkannya jadi salah.. maafin aku..”

Sakit hatiku mendengarnya. Tapi hal itu benar juga. Aku memang sering sakit hati olehnya. Dan hal itu nggak masalah buatku. Selama aku bisa komunikasi dengannya, aku nggak masalah berapa kali perasaanku terluka. Yang terpenting bagiku, dia ada buatku.
“Zal..” dia memanggil namaku. “Kamu nggak apa-apa?” sepertinya dia cemas melihatku yang terdiam.
“Udahlah, aku mau pulang. Terserahmu mau gimana. Kalau itu buat kamu senang, it’s okay.”
“Faizal!! Kamu nggak apa-apa kan?”
“Aku nggak apa-apa. Jaga dirimu.” jawabku datar.
“Yakin kamu nggak apa-apa?” pertanyaannya itu kujawab dengan lambaian tangan sambil berlalu. Terlalu pedih untukku menjawabnya.

Aku sayang kamu, dan kamu sayang aku. Kita berdua akan jadi sahabat selamanya. Kata-kata itu terus terngiang di benakku. Tapi apakah ini yang namanya sahabat? Meninggalkan sahabatnya seorang diri? Atau mungkin aku yang salah? Atau mungkin aku yang terlalu menganggapnya lebih?
Sejak itu, perlahan komunikasiku dengannya terputus. Aku hanya bertemu di sekolah. Tapi dia selalu saja menghindar tiap kali bertemu denganku. Aku tak mengerti kenapa dia sampai seperti ini. Yang aku tahu, sekarang dia sudah pergi. Bukan lagi dia yang dulu. Bukan lagi dia yang selalu ada buatku.
“Hai Zal! Siang-siang malah ngelamun.. di perpus lagi..”
“Oh kamu Gas, ngagetin aku aja..” ternyata Bagas, teman Ratih yang menyapaku.
“Hah? Ngagetin kamu? Dari tadi aku juga di depanmu kok.. kamu aja yang ngelamun.”
“Apa iya? Haha, maaf aku tak merasakan kehadiranmu..”
“Emangnya aku setan!!?”
“Lah kamu setan bukan?”
“Bukan.”
“Ya udah, jangan ngerasa. Hahahahah…”
“Sialan kau!! Oh iya, gimana kabarmu sama Ratih?”
“Jangan bahas dia di depanku.”
“Loh kenapa? Dia istrimu kan? Hahaha..”
“Mungkin, dulu iya. Tapi sekarang udah nggak.”
“Kenapa? Ada masalah?”
“Tanya sendiri sama dia! Aku males bahas dia! PUAS!?”
“Slow loh bung… kamu kalau marah ya boleh aja, tapi tolong dikontrol.. ya udah kalau kamu lagi pengin sendirian. Aku balik kelas dulu ya! Udah ada bu Malika.”
“Oh iya. Siap-siap adrenalinmu dipacu ya.. hahaha.” tapi Bagas sudah pergi, dan entah kenapa aku belum mau masuk ke kelas. Aku hanya terpaku di perpustakaan. Tempat favorit keduaku setelah kantin. Berdiam di pojokan sambil memegang novel Agatha Christie. Hanya memegang. Pikiranku entah kemana. Bahkan aku tak bisa memegang pikiranku sendiri.


Itu ingatanku yang dulu, sekarang sudah jauh berbeda. Saat dia berkata begitu, hujan turun seolah menggambarkan perasaanku saat itu. Dan kini, saat kucoba tuk mengingatnya lagi, hujan kembali turun. Aku tak merasakan dinginnya, tak menggigil karenanya, tapi terasa hangat menyentuh kulitku.
Sejenak aku tersenyum membayangkan, apakah hujan mengerti perasaanku? Seandainya ia punya kemampuan untuk bicara, mungkinkah ia akan menghiburku? Bagaimana suaranya? Ataukah sekarang ia sedang berusaha menghiburku dengan memberiku kehangatan hujan?
Semakin lama aku coba untuk melupakannya, membuangnya dari ingatanku, semakin aku tak bisa. Aku tak tahu apa yang aku pikirkan. Dan aku tak bisa mengosongkan pikiranku. Ratih, Ratih, Ratih dan Ratih. Hanya nama itu yang terlintas dan berhenti di kepalaku.
Mungkinkah aku merindukannya? Tapi sepertinya dia tak merindukanku. Terbukti dari seminggu yang lalu, handphone ku sama sekali tak bertuliskan namanya. Biasanya, dia selalu menghubungiku. Entah itu menanyakan kabar, menanyakan aktifitasku, atau hanya sekedar membuang bonusan. Tapi sekarang ku matikan. Dan aku tak berniat menyentuhnya.
Apa yang aku lakukan? Harusnya aku nggak kayak gini. Nggak masalah kalau dia jauhi aku. Tapi se-nggaknya, aku nggak njauhi dia! Aku nggak mau balas dendam cuma karena masalah kayak gini! Aku harus hubungi dia. Sekarang!!
Aku bangkit dari dudukku. Hujan sudah agak reda. Cepat-cepat aku meraih handphone-ku yang 3 hari ini tergeletak sendirian di laci lemariku. Aku nyalakan dan tak kusangka, ada puluhan sms dari Ratih yang masuk sekitar 1 jam yang lalu. Semua isinya menanyakan kabarku, dan permintaan maafnya.
Tanpa membuang waktu lagi, aku telpon dia.
5 menit berlalu dan tidak ada jawaban darinya. Atau mungkin dia marah? Pikirku. Akhirnya setelah 30 menit menunggu, terdengar jawaban juga..
Halo? Ratihnya ada?
Ya saya sendiri. Siapa ya?
Temenmu..
Ya siapa?
Faizal. Hehehe, gimana kabar Tih?

Mulai dari situ, aku mencoba untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Aku minta maaf padanya, dia juga minta maaf padaku. Sangat lama kami berbicara. Menceritakan hal-hal yang lucu, tertawa bersama, dan mengenang masa lalu. Dalam hati aku berpikir…
Aku nggak mau hubungan kita lebih dari ini. Sebatas ini saja sudah cukup bagiku. Meskipun kita nggak pacaran, tapi kita ini sahabat. Dan kata “sahabat” berlaku selamanya. Mungkin kalau dulu kita pacaran, kita nggak bisa kelihatan kaya berteman. Tapi kalau kita berteman, mungkin kita bisa keliatan kaya pacaran.
Saat itu aku melihat keluar. Hujan sudah berhenti. Matahari bersinar dengan terang. Di langit terlihat pelangi. Agaknya, hujan mengerti perasaanku.
Cerpen Karangan: Ruci Indra
Facebook: Ruci Indra Jhaladri


Baca Selengkapnya →